MIMPI SUPANUT
Oleh : Fatwa Nur Tahajud
Seperti biasa, tak ada yang aneh
atau ganjil. Kokok ayam jantan kabarkan pagi. Fajar sebentar lagi tiba. Namun
gerimis seperti menekan temaram matahari. Mendung menggelayut. Supanut sebentar
membuka jendela lalu menutupnya kembali. Ia mencuci muka dengan air wudhu.
Kemudian menghadap kepadaNya. Berdoa bukan untuk lari dari cobaan, tapi berdoa
agar diberi kemudahan dan kekuatan
setiap kali mendapat ujian.
“Nut…” Panggil Saripah ibunya.
“Ibu dibantu. Nanti kalau sudah
selesai sholat , Tempe goreng, bakwan dan pisang goreng di tata di becak.”
Supanut menatap wajah ibunya. Ingin
rasanya menghentikan aktivitas jualan ibunya. Wajahnya menjadi jauh lebih tua
dibanding usianya. Guratan otot di
kening semakin jelas. Dahinya mengeriput. Rambut yang sudah memutih tinggal
sejumput, dibundel membentuk gelung kecil. Sesekali batuk-batuk.
Rasanya aneh jika di jaman yang
makmur ini mencari nafkah untuk makan saja masih kesusahan. Om Tono bilang “kalau jaman sekarang masih ada orang
kelaparan, itu hanya karena tak mau bekerja, malas. Maunya duduk
ongkang-ongkang, uang datang. Mana ada?” Sambil bibirnya dimonyongkan.
Supanut menutup dan mengusap muka
dengan kedua telapak tangannya. Dibukanya mata lebar-lebar. Dilihatnya
kenyataan hidup. Ia yakin bahwa ibunya bukan pemalas, buktinya hampir setiap
hari bangun pagi dan jualan di bango kecil dekat pasar. Ia yakin bahwa bapaknya
bukan pemalas, buktinya meski gerimis,
tetap juga mengayuh becak dan mangkal di terminal.
Gerimis belum juga reda, Supanut
harus memandikan adik dan mengantarnya ke sekolah. Setumpuk piring kotor juga
pekerjaan rutin yang harus diselesaikannya.
Jarum jam menunjuk
angka 6 kurang 5 menit, dengan sapeda mini warna biru pudar tak
berkeranjang selalu menemaninya berangkat sekolah. Hanya dengan bekal doa
restu dari kedua orang tuanya.
Supanut membuka buku dan melukis.
Dilukisnya mimpi masa depan dalam
guratan pena yang membekas tak jelas.
Dagunya sesekali diletakkan dilengannya
yang diselonjorkan di meja.
Seperti tersentak, Ketika Guru
Bahasa Ingris masuk ruang kelas.
“Kenapa pagi- pagi sudah tiduran?”
Teman sekelas serentak tertawa. Ada
yang tertawa karena melihat Supanut kaget. Ada juga yang tertawa karena Supanut
ragu-ragu menjawab pertanyaan guru bahasa Inggris.
“Tadi malam mimpi ketemu Bu Esti,
ditanya bu Esti dengan bahasa Inggris Bu, katanya tak bisa jawab.” sahut Joko
yang duduk di depannya. Tawa kelas makin riuh.
Bu Esti hanya tersenyum. Ia tahu
bahwa Supanut bukan anak yang istimewa, tapi
juga bukan anak yang bodoh. Sebagai walinya, Bu Esti pernah mengorek
sampai ke kondisi orang tuanya. Bapaknya hanya abang becak. Ibunya hanya penjual
makanan kecil yang tak tentu penghasilannya. Rasanya tak mungkin Supanut akan
dapat melanjutkan pendidikan lebih dari SMA. Mencari nafkah buat makan saja
susah.
Seribu gambaran di kepala Bu Esti
tak ada pandangan yang mengurai harapan. Semuanya jelas, ekonomi jadi alasan.
Ayahnya sudah bangga dapat menyekolahkan Supanut Sampai lulus SMA. Setelah
lulus dapat membantu ibunya jualan di bango dekat pasar, atau setidaknya dapat
meringankan beban biaya pendidikan. Tinggal Teguh adiknya yang kini masih duduk
di bangku SD.
Bel sekolah berbunyi, seperti laron
yang berebut keluar dari lubangnya. Semua ingin cepat terbang. Supanut berdiri
digarasi. Seperti seekor laron yang tak punya sayap. Mau terbang pakai apa?
Sepeda mini dengan warna biru kini
roboh. Sadel nampak sobek dan kotor. Lalu dibersihkan dengan telapak tangannya
kemudian di hembus. Satu dua anak masih ada yang duduk-duduk di Graha Wiyata
Krida. Tukang kebun mengamatinya. Ada
rasa iba. Melihat Supanut menuntun sepeda mini yang mestinya sudah dijual
rongsok. Supanut menoleh dan tersenyum “Selamat siang pak!” Pak Bon membalasnya
dengan senyum juga.
“Supanut
sakit perut, kerjanya Cuma kentut, baunya sampai mulut, naiknya sepeda butut
lampunya manggut-manggut!” Suara itu muncul dari luar pagar tembok sekolah.
Supanut sudah hafal, walau ia belum lihat wajahnya. Pasti si Naif teman SMP
dulu yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara mencuri helm kepala sekolah.
Suatu ketika pernah terjadi Supanut
berkelai di dekat jembatan. Naif memang
keterlaluan. Tak jarang membawa-bawa nama dan profesi orang tua. Supanut
seperti lepas kendali. Supanut sudah mengangkat krah bajunya, ketika mau
menampar tiba-tiba seorang ibu yang sedang menjemur gabah berteriak. “Hai ….
Berhenti!” Perempuan setengah baya itu
meredamnya. Naif pun pergi, meski sesekali masih sempat mengacungkan kepal ke
arah Supanut.
“Le … Naif jangan dilayani, dia itu
anak edan, tak tau tata karma. Sama persis dengan bapaknya yang suka
mabuk-mabukan. Dia anak sudah mucul, biarkan saja.”
Esok harinya Supanut dicegat Barjo
bapaknya Naif. “Hai … Marmut, kemarin engkau yang memukul Naif?” Supanut
gemetar, apalagi setelah melihat tubuh
laki-laki gondrong itu penuh tato. Wajahnya pucat pasi. Supanut berlari pulang.
Ia telungkup di tepat tidur, kesal sekali melihat tingkah Naif.
Tak sadar sepeda mini yang dinaiki
sudah sampai depan SD. Ia lihat Teguh yang ikut mengerumuni penjual makanan
kecil. Beberapa anak tangannya menjulur
memberikan uang pada tukang jajan, Supanut berhenti, dipandanginya teguh,
sepertinya ingin membeli makanan itu, tapi ia tahu bahwa adiknya pasti tak bawa
uang. Lima ratus rupiah tak cukup untuk beli itu. Teguh hanya puas menonton.
“Teguh, yuk kita pulang. Ibu sudah
menunggu.”
Teguh segera naik ke atas sepeda.
Diayuhnya perlahan. Hatinya merasa iba.
Andai saja ia punya uang lebih, tentu ingin membelikan sesuatu untuk adiknya.
Sementara sepatu Supanut sendiri sudah tak layak untuk sekolah.
Esok hari Bu Esti menemui Supanut, ia
diarahkan untuk ikut Bidik Misi. Supanut
senang sekali, karena selama ini memendam mimpinya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.
Meski dingin terus menembus kulit
Saripah dan suaminya, malam yang memanjang terus bersujud dalam sholat Tahajud,
demi mimpi anak yang dicintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar