Cerpen

MIMPI SUPANUT
(Fatwa N.T)

                        Seperti biasa, tak ada yang aneh atau ganjil. Kokok ayam jantan kabarkan pagi. Fajar sebentar lagi tiba. Namun gerimis seperti menekan temaram matahari. Mendung menggelayut. Supanut sebentar membuka jendela lalu menutupnya kembali. Ia mencuci muka dengan air wudhu. Kemudian menghadap kepadaNya. Berdoa bukan untuk lari dari cobaan, tapi berdoa agar diberi kemudahan dan kekuatan  setiap kali mendapat ujian.
            “Nut…” Panggil Saripah ibunya.
            “Ibu dibantu. Nanti kalau sudah selesai sholat , Tempe goreng, bakwan dan pisang goreng di tata di becak.”
            Supanut menatap wajah ibunya. Ingin rasanya menghentikan aktivitas jualan ibunya. Wajahnya menjadi jauh lebih tua dibanding usianya.  Guratan otot di kening semakin jelas. Dahinya mengeriput. Rambut yang sudah memutih tinggal sejumput, dibundel membentuk gelung kecil. Sesekali batuk-batuk.
            Rasanya aneh jika di jaman yang makmur ini mencari nafkah untuk makan saja masih kesusahan. Om Tono bilang  “kalau jaman sekarang masih ada orang kelaparan, itu hanya karena tak mau bekerja, malas. Maunya duduk ongkang-ongkang, uang datang. Mana ada?” Sambil bibirnya dimonyongkan.
            Supanut menutup dan mengusap muka dengan kedua telapak tangannya. Dibukanya mata lebar-lebar. Dilihatnya kenyataan hidup. Ia yakin bahwa ibunya bukan pemalas, buktinya hampir setiap hari bangun pagi dan jualan di bango kecil dekat pasar. Ia yakin bahwa bapaknya bukan pemalas, buktinya meski  gerimis, tetap juga mengayuh becak dan mangkal di terminal.
          Gerimis belum juga reda, Supanut harus memandikan adik dan mengantarnya ke sekolah. Setumpuk piring kotor juga pekerjaan rutin yang harus diselesaikannya.
Jarum jam  menunjuk angka 6 kurang 5 menit, dengan sapeda mini warna biru pudar tak berkeranjang  selalu menemaninya  berangkat sekolah. Hanya dengan bekal doa restu dari kedua orang tuanya.
            Supanut membuka buku dan melukis. Dilukisnya mimpi  masa depan dalam guratan pena yang  membekas tak jelas. Dagunya sesekali diletakkan dilengannya  yang diselonjorkan di meja.
            Seperti tersentak, Ketika Guru Bahasa Ingris masuk ruang kelas.
            “Kenapa pagi- pagi sudah tiduran?”
            Teman sekelas serentak tertawa. Ada yang tertawa karena melihat Supanut kaget. Ada juga yang tertawa karena Supanut ragu-ragu menjawab pertanyaan guru bahasa Inggris.
            “Tadi malam mimpi ketemu Bu Esti, ditanya bu Esti dengan bahasa Inggris Bu, katanya tak bisa jawab.” sahut Joko yang duduk di depannya. Tawa kelas makin riuh.
            Bu Esti hanya tersenyum. Ia tahu bahwa Supanut bukan anak yang istimewa, tapi  juga bukan anak yang bodoh. Sebagai walinya, Bu Esti pernah mengorek sampai ke kondisi orang tuanya. Bapaknya hanya abang becak. Ibunya hanya penjual makanan kecil yang tak tentu penghasilannya. Rasanya tak mungkin Supanut akan dapat melanjutkan pendidikan lebih dari SMA. Mencari nafkah buat makan saja susah.
            Seribu gambaran di kepala Bu Esti tak ada pandangan yang mengurai harapan. Semuanya jelas, ekonomi jadi alasan. Ayahnya sudah bangga dapat menyekolahkan Supanut Sampai lulus SMA. Setelah lulus dapat membantu ibunya jualan di bango dekat pasar, atau setidaknya dapat meringankan beban biaya pendidikan. Tinggal Teguh adiknya yang kini masih duduk di bangku SD.
            Bel sekolah berbunyi, seperti laron yang berebut keluar dari lubangnya. Semua ingin cepat terbang. Supanut berdiri digarasi. Seperti seekor laron yang tak punya sayap. Mau terbang pakai apa? Sepeda mini dengan warna biru  kini roboh. Sadel nampak sobek dan kotor. Lalu dibersihkan dengan telapak tangannya kemudian di hembus. Satu dua anak masih ada yang duduk-duduk di Graha Wiyata Krida. Tukang kebun  mengamatinya. Ada rasa iba. Melihat Supanut menuntun sepeda mini yang mestinya sudah dijual rongsok. Supanut menoleh dan tersenyum “Selamat siang pak!” Pak Bon membalasnya dengan senyum juga.
“Supanut sakit perut, kerjanya Cuma kentut, baunya sampai mulut, naiknya sepeda butut lampunya manggut-manggut!” Suara itu muncul dari luar pagar tembok sekolah. Supanut sudah hafal, walau ia belum lihat wajahnya. Pasti si Naif teman SMP dulu yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara mencuri helm kepala sekolah.
            Suatu ketika pernah terjadi Supanut berkelai di dekat jembatan. Naif  memang keterlaluan. Tak jarang membawa-bawa nama dan profesi orang tua. Supanut seperti lepas kendali. Supanut sudah mengangkat krah bajunya, ketika mau menampar tiba-tiba seorang ibu yang sedang menjemur gabah berteriak. “Hai …. Berhenti!”  Perempuan setengah baya itu meredamnya. Naif pun pergi, meski sesekali masih sempat mengacungkan kepal ke arah Supanut.
            “Le … Naif jangan dilayani, dia itu anak edan, tak tau tata karma. Sama persis dengan bapaknya yang suka mabuk-mabukan. Dia anak sudah mucul, biarkan saja.”
            Esok harinya Supanut dicegat Barjo bapaknya Naif. “Hai … Marmut, kemarin engkau yang memukul Naif?” Supanut gemetar, apalagi setelah  melihat tubuh laki-laki gondrong itu penuh tato. Wajahnya pucat pasi. Supanut berlari pulang. Ia telungkup di tepat tidur, kesal sekali melihat tingkah Naif.
            Tak sadar sepeda mini yang dinaiki sudah sampai depan SD. Ia lihat Teguh yang ikut mengerumuni penjual makanan kecil.  Beberapa anak tangannya menjulur memberikan uang pada tukang jajan, Supanut berhenti, dipandanginya teguh, sepertinya ingin membeli makanan itu, tapi ia tahu bahwa adiknya pasti tak bawa uang. Lima ratus rupiah tak cukup untuk beli itu. Teguh hanya puas menonton.
            “Teguh, yuk kita pulang. Ibu sudah menunggu.”
            Teguh segera naik ke atas sepeda. Diayuhnya  perlahan. Hatinya merasa iba. Andai saja ia punya uang lebih, tentu ingin membelikan sesuatu untuk adiknya. Sementara sepatu Supanut sendiri sudah tak layak untuk sekolah.
            Esok hari Bu Esti menemui Supanut, ia diarahkan untuk ikut  Bidik Misi. Supanut senang sekali, karena selama ini memendam mimpinya  untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.
            Meski dingin terus menembus kulit Saripah dan suaminya, malam yang memanjang terus bersujud dalam sholat Tahajud, demi mimpi anak yang dicintai.

______________________________________________________________



Fatamorgana Di Angkasa
(Fatwa N.T)

Mendung menggelayut seperti menahal awan yang bakal menjelma menjadi hujan. Tetes – tetes hujan yang menetes dari atap seng yang kropos sesekali membentur tanah menjadi kubangan kecil sebagai bekas luka dalam hatinya. Luka yang menjadi sejarah dalam hidupnya. Partiyah duduk termenung. Betapa indahnya ketika Ia hidup bersama suaminya. Semua seperti terbakar dan lamunan tinggal lah lamunan. Mas Darso tak mungkin hidup kembali. Ia tinggal dan menjalani hidup bersama si kecil Makruf.
Makruf adalah satu – satunya anak yang dititipkan mendiang ayahnya. Ayah yang dulunya sangat mencintai Makruf sekarang telah tiada, tinggallah Partiyah yang setiap harinya mencari nafkah untuk makan dirinya dan juga anaknya. Partiyah merasa susah dan seperti tidak tahan lagi untuk menjalani hidup, sudah banyak barang yang setiap minggunya dijual untuk mengepuli dapur rumah. Pekerjaannya sebagai penjual makanan di sekolah dan di kampus - kampus sering kali tak cukup untuk membeli beras dan lauk. Makruf pun sering ngambek ketika Ia tidak diberi uang saku Ibunya.
Hari demi hari dijalani Partiyah dengan penuh cobaan, hingga tiba - tiba Partiyah didatangi seseorang yang umurnya tidak terpaut jauh, Toha namanya. Kabarnya Toha juga belum lama cerai dengan istrinya. Dari kabar burung yang beredar katanya karena istri dari Toha itu selingkuh dengan laki – laki lain.
Suatu hari ketika Toha datang ke rumah Partiyah, tiba – tiba Makruf lari keluar dengan membawa sebilah pisau tajam. “Dyar” ditancapkannya pisau yang dulunya sering kali digunakan bapaknya untuk memotong daging ayam ketika berjualan ayam potong di pasar  ke pintu rumah yang terbuat dari triplek, sudah lama triplek itu tidak diganti sehingga tampak berjamur dan rapuh. “Kenapa kamu nak?” Tanya Partiyah, Toha hanya tertegun melihat kelakuan Makruf yang seperti itu. Makruf tidak menjawab dan hanya mencabut pisau itu sambil menatap ibunya. Aneh sekali, Makruf seperti tidak senang jika melihat Toha di rumahnya. Akhirnya Toha yang merasa tidak nyaman dengan sikap Makruf, Ia pun segera minta izin pulang kepada Partiyah.
Partiyah sebenarnya telah memiliki perasaan yang sama dengan Toha, mereka saling mencintai. Rumah mereka memang jauh, Toha tinggal di daerah Kasihan, Bantul dan Partiyah tinggal di Merican, Sleman. Pertemuan mereka awalnya hanya karena ketika Toha membantu Partiyah mengangkat barang belanjaannya, sampai akhirnya mereka saling kenal dan akrab.
Partiyah semakin gelisah. “Kamu kenapa kemarin marah ketika ada Mas Toha di ruang tahu nak?” Tanya Partiyah kepada makruf sambil menata rambut Makruf dengan sisir. Namun Makruf diam saja, hanya sesekali menatap wajah ibunya. Sampai selesai Partiyah menyisiri Makruf dan ingin mengambilkan nasi di dapur, Makruf bicara “Kangen sama bapak, buk”. Kembalilah Partiyah ke tempat duduk, “Sama nak, ibu juga kangen sama bapakmu. Tapi ibu kerja sendirian ibuk tidak bisa beli nasi, bayar listrik, dan ngasih uang jajanmu.” Makruf berpaling dan menatap wajah ibunya. “Nanti kita beli belanja yang banyak lagi biar ibu bisa dapet uang banyak.” Partiyah hanya tersenyum dengan bingung memikirkan cara untuk menjelaskan kepada Makruf jika Ia ingin menikah dengan Toha.
Tiga hari berikutnya Toha datang membawa jajan kesukaan Makruf, roti bakar. Makruf dari depan rumah lalu lari masuk ke dalam rumah. Dicarinya pisau yang kemarin Ia temukan di sela – sela kompor, namun kali ini Ia tidak menemukan. Benar saja karena Partiyah sudah menyembunyikannya di atas lemari.
“Tyar”, suara gelas pecah. Pikir ibunya Makruf menyenggol gelas ketika ingin mengambil pisau di atas lemari. Lari lah Partiyah ke belakang rumah dan ternyata tidak ada Makruf. Namun pintu belakang rumah masih terbuka dan Toha yang mengikuti Partiyah masuk ke dapur hanya mengamati Makruf yang lari membawa layang – layangnya.

Diterbangkan oleh Makruf layang – layang itu di taman kampus. Diamatilah layang – layang yang menari – nari di angkasa seperti ayahnya ketika menghibur dan bermain dengan Makruf. Dipegangnya erat benang layang – layang itu, teringat ketika tangannya menggenggam jari telunjuk ayahnya. Menangislah anak itu sejadinya, dan semakin tinggi Makruf menerbangkan layang – layang itu, seperti keinginannya menebangkan cita – cita dan keinginan untuk membahagiakan Ibunya.

__________________________________________________________


Bulan Luka di atas Batu
(Fatwa N.T)

Malam itu terasa sunyi, hanya gemericik air yang terdengar bertarung dengan batu sungai. Daun di pohon sesekali bergesekan satu dengan yang lain. Suara dua tiga katak terdengar mengorek di seberang sungai Bugowonto. Satu bintang di sebelah barat, berkelip – kelip menampakan urnanya. Para ikan berpesta di bawah purnama rembulan.
            Darmanto pergi malam itu dengan membawa pancing dalam tas kusut berwarna coklat. Berjalan kaki menyusuri pinggiran Desa Baledono seorang diri. Burung gagak yang kala itu sedang mencengkram ranting pohon asem terbang mendengar langkah Darmanto. Kepakan sayapnya tak membuat Darmanto terkejut, ia hanya menengok ke atas tanpa berhenti melangkahkan kaki.
            Darmanto memang sudah sering memancing ikan di malam hari, terkadang ia mencari ikan bersama teman sekampungnya, namun hanya Darmanto yang lebih sering memancing diantara mareka. Entah karena himpitan ekonomi atau sekedar kesenangannya merenungi hidup di kesunyian malam. Ember bekas cat yang dibawanya setiap kali memancing tak mesti terisi penuh dengan ikan, terkadang hanya ikan – ikan kecil, udang, kepiting, bahkan pernah Darmanto mendapatkan sepasang sandal jepit yang dibawanya pulang.  Tapi ia tetap saja bahagia, buktinya hampir setiap malam ia tak absen memancing.
            Langkah kaki Darmanto terhenti di sebuah jembatan kecil, ia bertemu rekannya.
            “Man, gimana ikannya banyak malam ini?” Tanya Darmanto kepada Sukiman yang sedang memancing duduk di pinggir jembatan.
            “Banyak Dar, tadi aku lihat ikan bayong besar sekali di pinggiran sana.” Sukiman menunjukan tempat kira – kira ikan bayong itu muncul.
            Seperti percaya dan tertarik dengan perkataan temannya tadi, Darmanto duduk tidak jauh dari tempat Sukiman memancing itu. Dilemparkannya umpan sejauh – jauhnya, disilahkannya kedua kaki dan dijadikan alas sandal yang dipakainya. Tidak ada lagi percakapan diantara mereka bedua, bukan mereka tidak akrab atau pendiam, namun karena ikan – ikan di sungai takut dengan keramaian.
            Sekitar satu jam Darmanto duduk hanya satu ikan yang didapatnya, lalu ia memutuskan untuk pergi ke arah tempat ikan bayong yang tadi ditunjukkan Sukiman. Ia duduk di atas pondasi sungai, tempatnya duduk lebih jauh dari Sukiman. Dilemparkannya pacing itu ke tengah. Darmanto hanya duduk termenung seperti melamun, dinikmatinya bulan purnama dengan kedua matanya.
            Darmanto terkejut melihat batu kuning yang mengkilap di pinggiran sungai, diambilnya batu lalu diamatinya batu itu seperti seorang ilmuwan batuan. Kuning batu itu memang tampak  berbeda dengan batu – batu lainnya. Bentuknya tidak beraturan namun halus dan mengkilap. Pengamatan darmanto teralih ketika pancingnya tersendat seperti ada ikan yang menyantap umpan, benar saja ditariknya pancing itu dan ternyata ada ikan bayong yang menggantung dipancing. Senang sekali Darmanto mendapatkan ikan malam itu, memang mahal ikan bayong yang seukuran itu untuk dijual. Sukiman yang terkejut melihat ikan yang besar dipancing Darmanto segera menghampiri dan melihatnya dengan dekat. Waktu sudah tengah malam,  Darmanto pulang bersama dengan Sukiman.
            Hari masih pukul 2 malam, Darmanto lelah dan merebahkan dirinya di atas kursi panjang tempat ia sering tidur. Sangat terkejut Darmanto ketika merasa satu matanya lepas. Batu yang ditaruh di meja kamarnya seketika menyala dan masuk ke mata kirinya. Keringat Darmanto mengucur hingga seluruh tubuh dibasahi keringatnya. Matanya tinggal satu, ia merasakan ada yang berbeda dengan mata kirinya. Darmanto lari ke depan kaca lemari dan terkejut melihat mata kirinya berwarna kuning. Dengan wajah yang ketakutan Darmanto menoleh – noleh seisi kamarnya, seperti sedang dikepung oleh sekerumunan makhluk gaib perasaan Darmanto.
            “Mas Dar.”
Ketakutannya dalam mimpi buyar seketika. Darmanto lalu duduk di atas kursi dan mengelapi wajahnya yang penuh dengan keringat.
            “Kenapa kamu mas?” Tanya istrinya yang terbangun malam itu.
            “Aku baru saja bermimpi tentang batu ini.” Sambil menunjukkan batu kuning yang didapatkannya tadi saat memancing.
            Darmanto menjelaskan semuanya, namun ia menyuruh istrinya untuk tutup mulut, tidak memberitahu siapa saja termasuk Sukiman. Istrinya pun berjanji dan Darmanto masuk kamar dengan harapan tidak mimpi buruk lagi.
* * *
            Sejak kejadian itulah banyak orang – orang yang datang ke rumah Darmanto. Tempatnya dulu mencari nafkah dengan profesinya sebagai tambal ban sekarang telah berganti menjadi tempat parkir mobil. Depan rumahnya sekarang telah dihias taman – taman yang indah. Banyak sekali bunga – bunga yang tertanam di depan rumahnya, dari bunga anggrek, bunga melati, sampai bunga kenanga. Setiap orang yang lewat akan merasakan bau yang sangat harum. Banyak tetangganya yang sering meminta bibit – bibit bunga yang ditanamnya di depan rumah namun Darmanto melarangnya dengan bahasa yang halus.
            Sudah banyak orang – orang yang sakit bisa disembuhkannya, Darmanto sekarang seperti seorang dokter yang ampuh dan sakti mandraguna. Tidak sedikit pula calon suami istri yang ingin menikah datang ke tempatnya untuk menanyakan hari baik untuk menikah. Calon – calon pejabat juga sering kali datang ke rumahnya. Bahkan ada juga orang gila yang bisa disembuhkanya, hanya dengan menginap di rumah Darmanto selama tiga hari tiga malam. Memang Darmanto sekarang sudah dikenal banyak orang sebagai peramal dan orang ampuh di Purworejo bahkan sampai luar kota.
            Suatu hari ada seorang pemuda lulusan dari pesantren An – Nawawi Berjan yang menderita gangguan jiwa, Ghofar namanya. Walaupun gila namun anak itu berpenampilan sangat rapi dan selalu menggunakan kopyah. Ia akan marah – marah ketika kopyah yang ada di kepalanya dilepas. Ghofar malam itu dibawa oleh pamannya untuk berobat ke rumah Darmanto karena mendengar kabar dari tetangganya yang pernah menderita gangguan jiwa dan sembuh dengan berobat ke tempat Darmanto.
            Mula – mula Darmanto menyuruh pamannya Ghofar untuk menceritakan awal mulanya Ghofar menjadi gila.
            “Di pesantren Ghofar dulu pernah menghafalkan Al – Qur’an sampai hafal, Ghofar di lingkungan pesantren memang sudah terkenal pintar, ia mampu membaca ayat – ayat Al – Qur’an dengan tartil yang sangat bagus. Hingga pada akhirnya Ia ingin belajar ilmu filsafat Islam dan akhirnya Ghofar menderita gangguan jiwa seperti ini.” Penjelasan pamannya Ghofar yang duduk di sebelah Ghofar.
            Darmanto membawa masuk Ghofar ke dalam kamarnya. Sementara pamannya hanya menunggu di depan. Sebuah bilik kamar yang sangat gelap tanpa ada listrik yang menerangi. Hanya sinar rembulan yang terlihat dari candela yang masih sedikt terbuka. Wajah mereka berdua pun hanya terlihat hitam saja, Ghofar yang seperti ketakutan di kamar itu hanya diam dan menoleh – noleh sambil mengamati isi ruangan. Sebuah batu kuning yang menyala ketika dibacakan mantra oleh Darmanto seperti terangkat dari wadahnya.
            “agh!”
            Ghofar lalu keluar dari bilik kamar yang gelap. Darmanto terkapar mati di dalam kamar yang gelap tanpa cahaya.
* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar