Jumat, 26 April 2013

Cerpen 1 "Mimpi Supanut"


MIMPI SUPANUT
Oleh : Fatwa Nur Tahajud


                       Seperti biasa, tak ada yang aneh atau ganjil. Kokok ayam jantan kabarkan pagi. Fajar sebentar lagi tiba. Namun gerimis seperti menekan temaram matahari. Mendung menggelayut. Supanut sebentar membuka jendela lalu menutupnya kembali. Ia mencuci muka dengan air wudhu. Kemudian menghadap kepadaNya. Berdoa bukan untuk lari dari cobaan, tapi berdoa agar diberi kemudahan dan kekuatan  setiap kali mendapat ujian.
            “Nut…” Panggil Saripah ibunya.
            “Ibu dibantu. Nanti kalau sudah selesai sholat , Tempe goreng, bakwan dan pisang goreng di tata di becak.”
            Supanut menatap wajah ibunya. Ingin rasanya menghentikan aktivitas jualan ibunya. Wajahnya menjadi jauh lebih tua dibanding usianya.  Guratan otot di kening semakin jelas. Dahinya mengeriput. Rambut yang sudah memutih tinggal sejumput, dibundel membentuk gelung kecil. Sesekali batuk-batuk.
            Rasanya aneh jika di jaman yang makmur ini mencari nafkah untuk makan saja masih kesusahan. Om Tono bilang  “kalau jaman sekarang masih ada orang kelaparan, itu hanya karena tak mau bekerja, malas. Maunya duduk ongkang-ongkang, uang datang. Mana ada?” Sambil bibirnya dimonyongkan.
            Supanut menutup dan mengusap muka dengan kedua telapak tangannya. Dibukanya mata lebar-lebar. Dilihatnya kenyataan hidup. Ia yakin bahwa ibunya bukan pemalas, buktinya hampir setiap hari bangun pagi dan jualan di bango kecil dekat pasar. Ia yakin bahwa bapaknya bukan pemalas, buktinya meski  gerimis, tetap juga mengayuh becak dan mangkal di terminal.
            Gerimis belum juga reda, Supanut harus memandikan adik dan mengantarnya ke sekolah. Setumpuk piring kotor juga pekerjaan rutin yang harus diselesaikannya.
Jarum jam  menunjuk angka 6 kurang 5 menit, dengan sapeda mini warna biru pudar tak berkeranjang  selalu menemaninya  berangkat sekolah. Hanya dengan bekal doa restu dari kedua orang tuanya.
            Supanut membuka buku dan melukis. Dilukisnya mimpi  masa depan dalam guratan pena yang  membekas tak jelas. Dagunya sesekali diletakkan dilengannya  yang diselonjorkan di meja.
            Seperti tersentak, Ketika Guru Bahasa Ingris masuk ruang kelas.
            “Kenapa pagi- pagi sudah tiduran?”
            Teman sekelas serentak tertawa. Ada yang tertawa karena melihat Supanut kaget. Ada juga yang tertawa karena Supanut ragu-ragu menjawab pertanyaan guru bahasa Inggris.
            “Tadi malam mimpi ketemu Bu Esti, ditanya bu Esti dengan bahasa Inggris Bu, katanya tak bisa jawab.” sahut Joko yang duduk di depannya. Tawa kelas makin riuh.
            Bu Esti hanya tersenyum. Ia tahu bahwa Supanut bukan anak yang istimewa, tapi  juga bukan anak yang bodoh. Sebagai walinya, Bu Esti pernah mengorek sampai ke kondisi orang tuanya. Bapaknya hanya abang becak. Ibunya hanya penjual makanan kecil yang tak tentu penghasilannya. Rasanya tak mungkin Supanut akan dapat melanjutkan pendidikan lebih dari SMA. Mencari nafkah buat makan saja susah.
            Seribu gambaran di kepala Bu Esti tak ada pandangan yang mengurai harapan. Semuanya jelas, ekonomi jadi alasan. Ayahnya sudah bangga dapat menyekolahkan Supanut Sampai lulus SMA. Setelah lulus dapat membantu ibunya jualan di bango dekat pasar, atau setidaknya dapat meringankan beban biaya pendidikan. Tinggal Teguh adiknya yang kini masih duduk di bangku SD.
            Bel sekolah berbunyi, seperti laron yang berebut keluar dari lubangnya. Semua ingin cepat terbang. Supanut berdiri digarasi. Seperti seekor laron yang tak punya sayap. Mau terbang pakai apa? Sepeda mini dengan warna biru  kini roboh. Sadel nampak sobek dan kotor. Lalu dibersihkan dengan telapak tangannya kemudian di hembus. Satu dua anak masih ada yang duduk-duduk di Graha Wiyata Krida. Tukang kebun  mengamatinya. Ada rasa iba. Melihat Supanut menuntun sepeda mini yang mestinya sudah dijual rongsok. Supanut menoleh dan tersenyum “Selamat siang pak!” Pak Bon membalasnya dengan senyum juga.
“Supanut sakit perut, kerjanya Cuma kentut, baunya sampai mulut, naiknya sepeda butut lampunya manggut-manggut!” Suara itu muncul dari luar pagar tembok sekolah. Supanut sudah hafal, walau ia belum lihat wajahnya. Pasti si Naif teman SMP dulu yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara mencuri helm kepala sekolah.
            Suatu ketika pernah terjadi Supanut berkelai di dekat jembatan. Naif  memang keterlaluan. Tak jarang membawa-bawa nama dan profesi orang tua. Supanut seperti lepas kendali. Supanut sudah mengangkat krah bajunya, ketika mau menampar tiba-tiba seorang ibu yang sedang menjemur gabah berteriak. “Hai …. Berhenti!”  Perempuan setengah baya itu meredamnya. Naif pun pergi, meski sesekali masih sempat mengacungkan kepal ke arah Supanut.
            “Le … Naif jangan dilayani, dia itu anak edan, tak tau tata karma. Sama persis dengan bapaknya yang suka mabuk-mabukan. Dia anak sudah mucul, biarkan saja.”
            Esok harinya Supanut dicegat Barjo bapaknya Naif. “Hai … Marmut, kemarin engkau yang memukul Naif?” Supanut gemetar, apalagi setelah  melihat tubuh laki-laki gondrong itu penuh tato. Wajahnya pucat pasi. Supanut berlari pulang. Ia telungkup di tepat tidur, kesal sekali melihat tingkah Naif.
            Tak sadar sepeda mini yang dinaiki sudah sampai depan SD. Ia lihat Teguh yang ikut mengerumuni penjual makanan kecil.  Beberapa anak tangannya menjulur memberikan uang pada tukang jajan, Supanut berhenti, dipandanginya teguh, sepertinya ingin membeli makanan itu, tapi ia tahu bahwa adiknya pasti tak bawa uang. Lima ratus rupiah tak cukup untuk beli itu. Teguh hanya puas menonton.
            “Teguh, yuk kita pulang. Ibu sudah menunggu.”
            Teguh segera naik ke atas sepeda. Diayuhnya  perlahan. Hatinya merasa iba. Andai saja ia punya uang lebih, tentu ingin membelikan sesuatu untuk adiknya. Sementara sepatu Supanut sendiri sudah tak layak untuk sekolah.
            Esok hari Bu Esti menemui Supanut, ia diarahkan untuk ikut  Bidik Misi. Supanut senang sekali, karena selama ini memendam mimpinya  untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.
            Meski dingin terus menembus kulit Saripah dan suaminya, malam yang memanjang terus bersujud dalam sholat Tahajud, demi mimpi anak yang dicintai.