Mimpi Membangun Negeri
Karya Fatwa N.T
Seribu celoteh yang membusa
dari mulut rakyat jelata
Hanya mimpi membangun negeri
Sementara kutukan demi kutukan di lontarkan
pada para pejabat
yang mengendap - endap nyolong uang rakyat
dan berebut jadi penguasa
Lihat di lubang lubang semut
saling berebut jadi pengusa
Dengan cara menyogok rakyat jelata
Dengan dalih untuk pesta
Kemudian di giring masuk negeri
yang dibangun dengan seribu mimpi
dalam negeri korupsi
_________________________________________________
Bertapa di Taman Kampus
Karya Fatwa N.T
Kepompong tergantung di dahan
Sambil menggugurkan bulu-bulu yang menjijikan
Diam dalam tapa
Memandang pucuk bukit tursina
Kemudian menjelma
Menjadi kupu-kupu
Menerbangkan kata-kata
Membumbung ke angkasa
Sampai pada saatnya
Kepak sayap yang indah
Menari mempesona
Menghiasi taman-taman di kota
_________________________________________________
Sajak Sisa Usia
Karya Fatwa N.T
Matahari
kosong
Kepagian,
nenek tua
pergi, temui
tengkulak
Dingin
menyayat kulit yang tak lagi erat
Bismillahirohmanirrohim
busungkan
dada, keratkan slendang tua
Derita di sudut pasar
dihias wajah – wajah cemar
Nenek dekil
habiskan sisa – sisa usia
Matahari
meremas kepala
Masih dengan
perjuangan yang sama,
nenek
kembali dengan kepik di pundaknya
Keringat
mengucur disabit cuaca
Telapak
kaki mengapal
menahan
panas batu aspal
Nenek tua perkasa
habiskan masa
- masa tua
_________________________________________________
Kita Harus Menjelma
Karya Fatwa N.T
Dari kejauhan
kepingan dollar
nampak semakin jauh
Sementara disini
begal –
begal bermunculan
seperti jamur
dipupuk hujan
Panas
menyengat telinga rakyat
Penguasa beradu
muslihat
dan pion-pion
merobohkan ratunya.
Sungguh
indah permainan di negeri ini
saling
mengadu benteng, saling mengadu meteri
Indonesia
milik kita!
Kita harus menjelma
Mengawal keabsahan
Menjaga keperkasaan
Beranjak dari ketidaktahuan
Melangkah dengan kesaktian
_________________________________________________
Jejak Keindahan
Karya Fatwa N.T
Kupu – kupu yang menarikan sayapnya
dihias urna yang terlukis di kelembutan bulu – bulunya.
Aku terpaku dan mengaguminya dalam diam,
keindahan yang terlukis dari makna teramat dalam.
Semilir angin yang membuatnya hinggap di sanubariku.
Menyapa di hariku yang kala itu sunyi
tanpa kerinduan, tanpa pemecahan dan persoalan
Kupu – kupu lukiskan wajahnya di atas angan
tanpa ada cara penghapusan
Kupu – kupu lukiskan senyum di depan mata
tanpa ada waktu sirna
Sekian keindahannya terlukiskan.
Lalu pergi dan menari,
tinggalkan jejak keindahan
yang pernah Ia beri
_________________________________________________
Wajah – wajah yang Kian
Senja
(Fatwa N.T)
Bulan pun
belum sempat menjelma di angkasa
Tampak dari
sudut desa,
orang –
orang tua di pagi buta
melangkah menapaki
sisa usia
Di tempat yang
penuh keguyuban,
persaudaraan
dan kesyahduan
Mereka
mencari penghidupan
di pinggiran
kota - kota yang melahirkan
swalayan dan
restoran
Kini mereka telah
senja
Lopis, lapis,
jenang
Akankah
semua sirna seiring usia tua mereka
yang tak mampu lagi melangkah dan merajut?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar